
SEBANYAk 28 warga Desa Tanjakan Mekar, Kabupaten Tangerang, Banten, hingga kini masih terpaksa bertahan di lokasi pengungsian akibat dampak kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk. Puluhan pengungsi yang didominasi kelompok ibu rumah tangga, lansia, dan anak-anak tersebut telah menempati fasilitas Kantor Desa Tanjakan Mekar, Kecamatan Rajeg, selama sepekan penuh sejak insiden kebakaran melanda pada Selasa (30/6) lalu.
“Saya sudah mengungsi selama tujuh hari. Kalau untuk bantuan tercukupi, seperti logistik makanan, kasur, itu tercukupi semua,” ujar Qipi, salah satu pengungsi saat ditemui di posko Kantor Desa Tanjakan Mekar, Tangerang, Senin (6/7).
Qipi mengaku memilih tetap bertahan di posko darurat karena kepulan asap pekat dari sisa kebakaran TPA Jatiwaringin masih terus menyelimuti kawasan pemukimannya. “Asap masih ada. Jadi, saya pilih menetap sementara di sini, karena tidak mau ambil risiko,” ucapnya.
Senada, Kepala Desa Tanjakan Mekar, Uti, membenarkan bahwa mayoritas warganya yang mengungsi merupakan kelompok rentan. Paparan asap dari gunungan sampah yang terbakar dinilai sangat berbahaya bagi kesehatan jika dipaksakan dihirup dalam jangka panjang.
“Kalau untuk hari ketujuh, sekitar 20 orang lebih. Asap TPA itu mengandung racun, ya memang untuk sehari-hari itu sudah terdampak betul,” terang Uti.
Uti memastikan kondisi kesehatan para pengungsi saat ini berangsur membaik dan dalam pengawasan ketat tim medis. Sebelumnya, mayoritas warga yang datang ke pengungsian mengeluhkan gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Ya alhamdulillah, dokter dan Puskesmas Rajeg memang selalu mengecek. Apabila ada warga yang mengungsi, langsung diperiksa kesehatannya,” tambahnya.
Terkait pasokan logistik dan pemenuhan kebutuhan dasar, Uti menjamin stok bahan pokok dalam kondisi aman berkat berdirinya dapur umum. Bantuan terus mengalir dari Dinas Sosial, Kementerian Sosial, PDAM, Pemerintah Kabupaten Tangerang, hingga Pemerintah Provinsi Banten dan relawan kemanusiaan.
Pemadaman Udara dan Darat Terus Dikebut
Hingga memasuki hari ketujuh, operasi pemadaman skala besar yang melibatkan tim gabungan Pemerintah Daerah, BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dan Kementerian Kehutanan masih terus dikebut melalui jalur darat maupun udara.
Di lapangan, ratusan petugas pemadam kebakaran bersama personel Manggala Agni terus berjibaku melokalisasi titik api di jalur darat. Sementara dari udara, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan tiga unit helikopter bom air (water bombing) untuk mengguyur area yang sulit dijangkau.
Berdasarkan data terkini, cakupan lahan yang terbakar di TPA Jatiwaringin mencapai 18 hektare dari total keseluruhan luas lahan 33 hektare. Petugas gabungan kini telah berhasil mengendalikan situasi, di mana kobaran api kini dilaporkan hanya menyisakan sekitar 3,6 persen dari total area terdampak yang masih dalam proses pemadaman total.
